Kata " Bonjeruk " Pasti kita berpikir "sumur Jeruk" Karena bila dilihat dari asal katanya " Bon/buwun" Yang artinya sumur dan jeruk artinya jeruk juga dalam bahasa Sasak. Tetapi jika kalian berkunjung, kalian tidak akan menemukan sumur jeruk tetapi yang akan kalian temukan adalah sumur yang didekatnya tumbuh pohon jeruk. Itulah ceritanya sehingga dijadikan nama desa yaitu desa bonjeruk, desa dimana masyarakatnya dalam kesehariannya bahasa "meriak, meriku ".
Desa bonjeruk adalah salah satu desa yang ada di kabupaten Lombok Tengah. Desa bonjeruk memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri dibanding dengan desa lainnya, selain dikenal dengan desa sejarah desa bonjeruk juga sangat ketat dengan adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun oleh papuk balok ( nenek moyang).
Desa bonjeruk dikenal dengan desa sejarah karena desa bonjeruk pernah menjadi pusat pemerintahan ke distrikan pada zaman Belanda yang pada saat itu distrikan dipimpim oleh Mamih olen., desa bonjeruk juga merupakan desa kelahiran bupati pertama Lombok Tengah yaitu Bpk Lalu Srinata.
Desa bonjeruk termasuk desa tertunda kecamatan jonggat, kabupaten Lombok Tengah. Asal kata nama jonggat diambil dari sebuah nama tempat yang ada di desa bonjeruk, biasanya di kecamatan lain untuk nama kecamatannya diambil dari sebuah nama tempat yang ada di kecamatan tersebut lain halnya dengan kecamatan bongkar, jonggat bukan nama dari sebuah desa tetapi jonggat adalah nama sebuah tempat yang ada di bagian barat desa bonjeruk. Jonggat dijadikan nama kecamatan karena menurut cerita yang saya dengar dari papuk balok dan keturunan langsung dari satu jonggat yaitu Lalu Muhammad Amin, MA ,karena di jonggat ini tempat tinggalnya Datu atau raja.
BUDAYA &ADAT ISTIADAT
Masyarakat desa bonjeruk di bagi menjadi 3 golongan yaitu golongan bangsawan , ningrat atau menak, pruangse dan jajar karang. (Masyarakat biasa). Ke tiga golongan ini mempunyainya perbedaan dan peran dimasyarakat. Diantaranya
1. Golongan bangsawan adalah keturunan dan keluarga dari Datu(Raja) jonggat yang dalam masyarakat mereka dipanggil Gde, Raden atau Lalu untuk laki-laki yang belum menikah dan mamiq panggilan uuntuk laki-laki yang sudah menikah, sedangkan yang perempuan dipanggil Lale, Baiq sebelum maupun sesudah menikah
2. Golongan pruangse mereka adalah para pembantu dari Datu dan dimasyarakat mereka dipanggil Bape untuk laki-laki yang sudah menikah.
3. Golongan jajar karang dalam masyarakat mereka dipanggil inak untuk perempuan dan amak untuk laki-laki yang sudah menikah dan punya anak.
Selain dari panggilan yang berbeda di masyarakat 3 golongan dapat kita ketahui dari segi bahasanya, untuk golongan bangsawan menggunakan bahasa Sasak alus sedang golongan pruangse menggunakan bahasa Sasak campuran antara bahasa Sasak alus dan bahasa Sasak biasa yang digunakan kaum jajar karang dalam kesehariannya.
Dalam hal adat istiadat desa bonjeruk masih tetap memegang teguh awik - awik ( aturan) dari papuk balok (nenek moyang). Ini dapat disaksikan pada saat acara pernikahan atau perkawinan. Perkenalkan terune ( laki-laki) dengan dedare ( perempuan/gadis) yang diawali dengan midang yaitu laki-laki datang berkunjung kerumah perempuan yang disukai. Apabila mereka mau menikah maka yang perempuan harus dilarikan atau diculik dulu kerumah keluarga dari pihak laki-laki inilah yang disebut embait.
Embait ini memiliki aturan yang telah ditetapkan dalam adat, misalnya laki-laki tidak boleh embait pada siang hari atau dengan cara memaksa si gadis . Apabila hal ini dilanggar maka kepada laki-laki dikenakan sangsi pada acara sorong serah Aji kramannya nanti, jika dilihat dari jumlah nominalnya tidak seberapa tapi makna dan nilainya dari adat yang harus dilihat disini misalnya untuk penculikan dengan cara memaksa dan menimbulkan keributan makan dikenakan denda pati sebesar Rp 49.000,-.
Pada saat si gadis yang dilarikan telah sampai dirumah keluarga si laki-laki maka akan disambut dengan acara mangan melangkah( makan bersama untuk menyambut kedatangan pengantin perempuan dirumah pengantin laki-laki dengan lauk pececing ayam), pada saat mangan merangkat calon penganten disediakan satu butir telur diatas perangkat ( nampan). Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahu kepada pihak keluarga penganten perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan masejati atau nyelabar, masejati ini berlangsung selama 9kali dalam 9 hari yang bertujuan untuk membicarakan acara kelanjutan upacara upacara adat perkawinan serta segala sesuatu kebutuhan dalam perkawinan, dalam hal ini adalah acara akad nikah, jumlah tagihan dari keluarga pengantin perempuan dan kapan acara begawe atau kenduri (pesta pernikahan) dilaksanakan.
Pada saat malam begawe inilah kita bisa melihat berbagai macam budaya dan kesenian dipertunjukkan didesa bonjeruk, baik tradisional maupun modern yang bertujuan untuk menghibur terune dedare yang tangi (begadang) , seperti gandrung, joget , rumah, gong gamelan, dan pertunjukan wayang kilit masih banyak kesenian yang lain seperti ngerants ( memukul lesung berbentuk panjang secara bersama-sama yang dilakukan oleh terune dedare). Puncak acara dalam adat pernikahan ini adalah sorong serah aji krama yaitu pihak keluarga pengantin laki-laki menyerahkan seperangkat lambang suci adat Sasak kepada pihak keluarga pengantin perempuan, setelah itu orang tua pengantin perempuan kedatangan keluarga besar dari pihak keluarga pengantin laki-laki yang disebut dengan nyangkul mengenakan pakaian adat Sasak yaitu lambung dan diiringi dengan gendang belek kecil, gong gamelan yang nantinya akan disambut dari pihak pengantin perempuan yang disebut dengan mendoakan dalam bahasa Sasak. Acara adat pernikahan didesa bonjeruk ditutup dengan acara bejango atau balas ones nae yaitu pihak laki-laki datang kerumah pihak perempuan untuk mempererat tali silaturahmi, biasanya dilakukan sehari setelah acara nyonhkol.
Selain dari panggilan yang berbeda di masyarakat 3 golongan dapat kita ketahui dari segi bahasanya, untuk golongan bangsawan menggunakan bahasa Sasak alus sedang golongan pruangse menggunakan bahasa Sasak campuran antara bahasa Sasak alus dan bahasa Sasak biasa yang digunakan kaum jajar karang dalam kesehariannya.
Dalam hal adat istiadat desa bonjeruk masih tetap memegang teguh awik - awik ( aturan) dari papuk balok (nenek moyang). Ini dapat disaksikan pada saat acara pernikahan atau perkawinan. Perkenalkan terune ( laki-laki) dengan dedare ( perempuan/gadis) yang diawali dengan midang yaitu laki-laki datang berkunjung kerumah perempuan yang disukai. Apabila mereka mau menikah maka yang perempuan harus dilarikan atau diculik dulu kerumah keluarga dari pihak laki-laki inilah yang disebut embait.
Embait ini memiliki aturan yang telah ditetapkan dalam adat, misalnya laki-laki tidak boleh embait pada siang hari atau dengan cara memaksa si gadis . Apabila hal ini dilanggar maka kepada laki-laki dikenakan sangsi pada acara sorong serah Aji kramannya nanti, jika dilihat dari jumlah nominalnya tidak seberapa tapi makna dan nilainya dari adat yang harus dilihat disini misalnya untuk penculikan dengan cara memaksa dan menimbulkan keributan makan dikenakan denda pati sebesar Rp 49.000,-.
Pada saat si gadis yang dilarikan telah sampai dirumah keluarga si laki-laki maka akan disambut dengan acara mangan melangkah( makan bersama untuk menyambut kedatangan pengantin perempuan dirumah pengantin laki-laki dengan lauk pececing ayam), pada saat mangan merangkat calon penganten disediakan satu butir telur diatas perangkat ( nampan). Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahu kepada pihak keluarga penganten perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan masejati atau nyelabar, masejati ini berlangsung selama 9kali dalam 9 hari yang bertujuan untuk membicarakan acara kelanjutan upacara upacara adat perkawinan serta segala sesuatu kebutuhan dalam perkawinan, dalam hal ini adalah acara akad nikah, jumlah tagihan dari keluarga pengantin perempuan dan kapan acara begawe atau kenduri (pesta pernikahan) dilaksanakan.
Pada saat malam begawe inilah kita bisa melihat berbagai macam budaya dan kesenian dipertunjukkan didesa bonjeruk, baik tradisional maupun modern yang bertujuan untuk menghibur terune dedare yang tangi (begadang) , seperti gandrung, joget , rumah, gong gamelan, dan pertunjukan wayang kilit masih banyak kesenian yang lain seperti ngerants ( memukul lesung berbentuk panjang secara bersama-sama yang dilakukan oleh terune dedare). Puncak acara dalam adat pernikahan ini adalah sorong serah aji krama yaitu pihak keluarga pengantin laki-laki menyerahkan seperangkat lambang suci adat Sasak kepada pihak keluarga pengantin perempuan, setelah itu orang tua pengantin perempuan kedatangan keluarga besar dari pihak keluarga pengantin laki-laki yang disebut dengan nyangkul mengenakan pakaian adat Sasak yaitu lambung dan diiringi dengan gendang belek kecil, gong gamelan yang nantinya akan disambut dari pihak pengantin perempuan yang disebut dengan mendoakan dalam bahasa Sasak. Acara adat pernikahan didesa bonjeruk ditutup dengan acara bejango atau balas ones nae yaitu pihak laki-laki datang kerumah pihak perempuan untuk mempererat tali silaturahmi, biasanya dilakukan sehari setelah acara nyonhkol.
Dalam hal segi budaya masyarakat didesa bonjeruk yang sulit sekali untuk dirubah seperti saat acara perayaan hari besar keagamaan seperti(idul fitri, idul adha, maulid), ada sebagian besar masyarakat desa bonjeruk membawa makanan sebagai sesaji kekuburan . Hal hal yang berbau mistis dan dukun yang bisa menyembuhkan penyakit juga masih tinggi, sebagian masyarakat.
Selain dari sejarah, budaya adat istiadat di desa bonjeruk juga memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri dengan panorama alam yang baik, baik itu pertanian, perkebunan, dan penjualan.
Adapun yang dapat dikunjungi di desa bonjeruk antaranya
1.Masjid raden nune umasa
Akses menuju masjid Rn. Umas membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan jarak tempuh sekitar 6kilometer dari perempatan desa puyung, sedangkan dari pertigaan desa ubung membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan jarak -+10 kilo meter kondisi jalan yang mulus membuat jarak menuju masjid bersejarah tersebut lebih singkat, memang dari kejauhan nampak tidak ada simbol perjalanan historis yang ditinggalkan namun jika diladang ada beberapa peninggalan sejarah yang masih tersimpan rapi, disalah satu sisi tembok terdapat tulisan " Rn Umas ".tak ada yang bisa memastikan kapan masjid ini dibangun, namun salah satu keturon dari Rn umas yang juga pengurus masjid H. Lalu zainuddin memperkirakan masjid ini dibangun bersama dengan pembangunan desa onderdistrik atau sejenis kantor desa sekaligus kecamatan pada tahun 1886 silam., lokasi Rn umas terletak di perempatan desa bonjeruk atau disamping kantor desa bonjeruk, sejak berdirinya sampai sekarang masjid ini tak pernah berubah nama.
2.Agro wisata yang terletak di dusun peresk
3.kebun pohon naga
kebun pohon naga dan kerajian tangan kelompok wanita tani di dusun ombak didusun ini juga ada beberapa produk dan Kerajaan yang dimana hasilnya sudah menembus pasar-pasar di luar negri seperti pasar thailand.









Komentar
Posting Komentar